Sabtu, 09 Juli 2011

Pengaruh Sampah Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pemulung. (Tugas MPA I)

          ABSTRAKSI 
      Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana peranan sampah terhadap kesejahteraan pemulung sampai kepada apa latar belakang mereka memilih mata pencaharian tersebut. Untuk mencapai tujuan dalam penelitian maka digunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai alat analisisnya.
   Adapun hasil dan kesimpulan dari penelitian ini yakni, sampah sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan pemulung, sebab jumlah sampah yang ada maupun diperoleh untuk dijual kembali, sangat berdampak terhadap tingkat pendapatan pemulung. Secara singkatnya, semakin banyak jumlah sampah yang akan dijual kembali maka semakin banyak pendapatan yang diperoleh pemulung. Dan semakin sulit sampah diperoleh, akan semakin tinggi nilai jualnya.
Meskipun mereka hanya bermatapencaharian sebagai pemulung, pada umumnya mereka mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
     Ada beberapa alasan mengapa para pemulung memilih mata pencaharian ini yaitu, tuntutan ekonomi, kekurangan pengetahuan dan skill, tidak mendapat pekerjaan lain yang lebih baik sampai kepada alasan keturunan.
Kata kunci:sampah, pemulung, tingkat kesejahteraan.

BAB I PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
            Hampir di setiap sudut jalan yang ada di kota Medan, terdapat sampah. Padahal menjaga kebersihan merupakan hal yang tidak terlalu sulit untuk di lakukan, namun pada kenyataannya di kota Sisimangaraja ini, sampah yang berserakan dan sampah yang menggunung menjadi pemandangan yang biasa. Sampah merupakan barang sisa atau juga barang bekas yang telah berkurang maupun habis nilai gunanya. Pada umumnya, masyarakat menganggap sampah merupakan sesuatu yang tidak berguna dan malah merugikan, padahal tidak semua dari sampah tersebut merupakan barang yang tak bisa diolah kembali dan menghasilkan keuntungan. Jika setiap pribadi mengerti dan mau berusaha, bukan rahasia lagi jika sampah pun dapat menciptakan mata pencaharian, baik dari keuntungan yang minim sampai kepada bisnis yang menjanjikan jutaan Rupiah per bulannya. Namun, karena sikap menyepelekan dan sifat malas yang membudaya, sampah menjadi hal yang terlewatkan untuk “disulap” menjadi uang. Namun diantara banyaknya masyarakat kota Bika Ambon ini, ada beberapa orang yang membangun mata pencahariannya dari sampah, misalnya saja pemulung. Bukan hanya dua atau tiga orang saja yang memilih mata pencaharian menjadi pemulung. Merupakan hal yang menarik untuk diteliti, mengapa mereka yang menggantungkan hidupnya pada sampah, mampu menghidupi diri dan keluarganya bahkan menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perkuliahan, bahkan pada umumya mereka mempunyai jumlah anak lebih dari dua (melewati jumlah anak yang dianjurkan dari program KB), bagaimana bisa? padahal orang-orang yang mungkin lebih baik dari segi pekerjaan dibanding mereka, belum tentu sanggup melakukan tindakan seperti itu. Bagaimanakah peranan sampah sehingga sampai begitu penting dan berpengaruhnya terhadap kesejahteraan mereka? fenomena ini sangat menarik dan sangat penting untuk diteliti sehingga hal inilah yang menjadi alasan peneliti memilih permasalahan tersebut.
I.2. RUMUSAN MASALAH 
           Berdasarkan latar belakang masalah penelitian yang telah diuraikan maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a.Apa latar belakang mereka memilih mata pencaharian sebagai pemulung?
b.Bagaimana peranan sampah terhadap kesejahteraan pemulung?
BAB II
KONSEP DAN TEORI
            Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak dipakai, digunakan, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Chandra, 2007). Banyak sampah organik yang masih mungkin digunakan kembali/pendaur-ulangan (re-using), walaupun pada akhirnya akan tetap merupakan bahan material yang tidak dapat digunakan kembali (Daniur, 1995).
        Pemulung adalah orang yang memulung dan mencari nafkah dengan jalan memungut serta memanfaatkan barang-barang bekas (seperti plastik, kardus bekas dan sebagainya) kemudian menjualnya kepada pengusaha yang akan mengolahnya kembali menjadi barang komoditi (Ali Lukman, 1991 : 51).
     Pemulung didefinisikan sebagai orang yang mempunyai pekerjaan utama sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mendukung kehidupannya sehari-hari, yang tidak mempunyai kewajiban formal dan tidak terdaftar di unit administrasi pemerintahan (Twikromo, 1999 : 09).
      Menurut sumber dari website arti kata.com, memulung adalah mencari nafkah dengan jalan mencari dan memungut serta memanfaatkan barang bekas dengan menjualnya kepada pengusaha yang akan mengolahnya kembali menjadi barang komoditas. Orang yang melakukannya disebut pemulung.
      Kesejahteraan adalah tingkatan kemapanan seseorang maupun kelompok baik secara batin (mental) dan materi (fisik) (Rachman, 2006). 
BAB III
METODOLOGI
            III.1. Penelitian ini tergolong tipe penelitian
                    deskriptif, yang bertujuan:
              Untuk mengetahui peranan sampah
              terhadap tingkat kesejahteraan pemulung.
              Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan
              pemulung.
              Untuk mengetahui alasan atau pun latar
belakang mereka memilih mata pencaharian
sebagai pemulung.
III.2. Manfaat penelitian:
     Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
     dalam rangka pengembangan konsep dan
     teori-teori yang berkenaan dengan
     sampah sebagai sumber mata pencaharian.
III.3. Penelitian dilakukan di dua lokasi yang berbeda (lokasi didapati atau ditemuinya informan) yakni:
a. TPS Serdang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serang, Medan, Sumut.
b. TPA Namo Bintang, kecamatan Pancur Batu, kabupaten Deli Serdang, Medan, Sumut.
III.4. Teknik penarikan sampel:
Penelitian ini tergolong tipe penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui peranan sampah terhadap tingkat kesejahteraan pemulung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dan informannya adalah individu pemulung (per-orang). Penelitian dilakukan di dua lokasi berbeda, yakni TPS Serdang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang dan TPA Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Teknik penarikan sampel yang dilakukan adalah teknik penarikan sampel insidental (incidental sampling technique), yakni tidak menetapkan jumlah populasi yang akan dijadikan sampel, hal ini tergantung pada peneliti. Informan yang didapat sebagai sampel adalah pemulung yang kebetulan atau ketepatan ditemui pada hari dilakukannya penelitian dan dari pemulung inilah peneliti mendapat informasi seputar sampah dan tingkat kesejahteraan hidupnya.
BAB IV
PEMBAHASAN
            Sampah merupakan barang sisa atau juga barang bekas yang telah berkurang maupun habis nilai gunanya. Sampah sudah menjadi pemandangan yang biasa di kota Medan. Bahkan keberadaan pembersih jalan, pengangkut sampah bahkan meskipun dengan mata pencaharian lain yang bukan ciptaan pemerintah, yang juga ikut ambil andil di dalamnya, tidak mempunyai arti dan dampak yang banyak terhadap tingkatan jumlah sampah yang ada. Jika perilaku daripada masyarakat sangat sulit diubah maka sebaiknya juga diciptakan alternatif lain untuk dapat “memanipulasi” keberadaan sampah-sampah tersebut. Misalnya dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Sekurang-kurangnya, dengan mengurangi keberadaan sampah, hal ini juga dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada, terutama di kota Medan. Ada beberapa mata pencaharian yang tercipta dari sampah ini, misalnya saja tukang “botot” (pengambil, penerima dan pembeli barang bekas), penampung “botot” (penerima sekaligus pembeli barang bekas dari tukang “botot”), pemulung, dsb. Namun pada penelitian ini, peneliti(penyusun) lebih memfokuskan kepada pemulung.
            Memulung adalah mencari nafkah dengan jalan mencari dan memungut serta memanfaatkan barang bekas dengan menjualnya kepada pengusaha yang akan mengolahnya kembali menjadi barang komoditas. Dan orang yang melakukan tindakan memulung disebut pemulung. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang menjadi pemulung, mulai dari tuntutan ekonomi, kekurangan pengetahuan dan skill, tidak mendapat pekerjaan lain yang lebih baik sampai kepada alasan keturunan. Mengejutkan memang, namun begitulah realita yang terjadi disekitar kita.
Contohnya saja informan pertama yang diwawancarai. Ia bernama Atauw. Lelaki keturunan Chinese ini menjadi pemulung karena keturunan. Sesuatu yang mencengangkan, bagaimana bisa pemulung mampu menjadi mata pencaharian turunan. Menurut kami, ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, misalnya saja akibat pengaruh budaya. Adanya pandangan yang turun-menurun dari keluarganya mengenai memulung, hal ini tentu diawali oleh rasa nyaman dan kepuasan yang cukup hanya dengan memulung. Sehingga tidak adanya keinginan untuk mencari mata pencaharian lain. Namun mungkin juga karena kualitas dari dirinya pribadi yang hanya tamatan SMA. Hal ini menimbulkan sikap pesimis dan minder untuk bersaing dengan orang-orang yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih darinya. Pria berusia 32 tahun ini menjadi pemulung sudah hampir setengah dari umurnya. Dan ayah dari lelaki ramah ini juga bekerja sebagai pemulung dulunya, namun 5 tahun terakhir, ayahnya sudah membuka penampungan “botot”, sehingga ia tidak perlu lagi “menolak” barang-barang hasil memulungnya kepada orang lain. Meskipun memiliki ikatan keluarga, bagi mereka, “bisnis tetap bisnis” jadi harus bertindak secara tegas. Ia tidak mendapat keistimewaan dari segi toleransi dan harga, sama seperti tukang “botot” maupun pemulung lainnya. Pria bermata sipit ini telah menikah serta dikaruniai 4 orang anak dan anaknya yang pertama kelas 5 SD sedangkan yang terakhir baru saja mengawali sekolahnya di TK. Istri beliau juga bekerja untuk membantu menyokong perekonomian keluarga, yakni membuka warung jajanan di depan rumah. Pak Atauw mengaku bahwa menjadi pemulung cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun hanya secara sederhana. Ia memilih untuk menjadi pemulung dibanding tukang “botot”, sebab menurutnya memulung tidak perlu membeli dari orang lain, sehingga keuntungannya lebih maksimal, namun dari segi banyaknya jumlah barang yang diperoleh, tentu ia kalah. Ia hanya mengandalkan sumber TPA dan tempat-tempat sampah pemukiman penduduk, sementara tukang “botot” bersedia membelinya dari warga-warga. Menurutnya, hanya beberapa saja jenis sampah yang dapat dijual kembali, seperti sampah plastik, besi, botol plastik dan botol kaca bekas, koran ataupun buku-buku usang. Biasanya harga yang ia peroleh dari besi sekitar Rp.3000-4000/kg, sedangkan yang lainnya, hanya Rp.2500/kg. Sehari-harinya, ia memulai memulung dari jam 11 siang hingga malam hari (tidak tentu, tergantung jumlah sampah yang di dapat). Menurutnya jumlah sampah yang ia dapat untuk dijual kembali semakin hari semakin sedikit. Ia berkilah, hal ini mungkin disebabkan perekonomian yang semakin sulit dan ditambah biaya pendidikan yang semakin tinggi, sehingga jumlah pemulung bertambah banyak. Dengan wajah yang berpeluh keringat, sedikit mengeryitkan kening kemudian ia bersuara dengan yakin dan tegas, bahwa pada umumnya, meskipun ia dan beberapa rekannya bermata pencaharian sebagai pemulung, mereka sangat memperhatikan dan mementingkan masalah sekolah anak-anaknya. Ia berharap kelak anaknya jangan seperti ia, jangan ada keinginan di benak anaknya untuk menjadi pemulung atau berperkerjaan yang seputaran sampah seperti ini. Semangat dan harapanlah yang membuat orang-orang seperti pak Atauw berjuang dalam hidup ini. Meskipun dengan hidup sederhana, namun bisa membina keluarga yang bahagia dan mencukupi, itulah yang terbaik baginya. Sehingga setiap hari, meskipun ia berpeluh dan merasakan teriknya mentari, hal itu tak membuatnya jatuh dan putus asa. Ia yakin, ia mampu menjadikan anak-anaknya mempunyai masa depan yang lebih cerah dibanding dirinya.
Informan kedua adalah Ibu Karo. Ia biasanya dipanggil nek Karo. Nenek berusia 80 tahun ini mengaku telah lama menjadi pemulung, sampai-sampai ia tak ingat lagi sudah berapa lama. Sambil duduk dan pandangan nanar, nek Karo bercerita tentang pengalaman hidupnya selama menjadi pemulung. Ia hampir setiap hari memulung barang-barang di TPA Namo Bintang. Biasanya ia memulung sampah plastik, botol-botol, bahkan terkadang ia mengumpulkan makan-makan sisa yang busuk dan akan ia jual kepada orang yang mempunyai ternak babi (ia menyebutnya parnab). Sambil tersenyum malu, ia mengaku pendapatannya hanya Rp.20.000/hari. Terlihat giginya yang tinggal dua lagi, namun masih semangat untuk mengunyah sirih. Selain memulung, nek Karo juga berladang. Ia berkata “ya, sambil-sambilanlah nak ku, nunggu panen padi kita, ya di sampah inilah. Biar ada duit beli sirih.” Terkejut memang melihat semangat nenek ini. Ia tidak mau menjadi beban bagi anak-anaknya yang telah menikah, ditambah lagi ia mempunyai suami yang sedang mengalami sakit, sehingga ia tak mungkin berdiam diri saja. Terkadang pun, ketika ia mendapat barang-barang yang menurutnya masih bisa dipakai lagi, ia mengambil barang tersebut dan membawanya ke rumah. Miris sekali mendengar pengakuan nenek ini. Nek Karo mengatakan bahwa meskipun penghasilannya dari sampah tersebut tidak terlalu besar, namun cukup untuk menghidupi beliau dan sang suami tercinta. Kami mendengarkan kisah nek Karo sambilan duduk diatas sampah yang menggunung, dibawah tendah yang dibuat seadanya adalah pengalaman yang menakjubkan bagi kami. Kami bercengkramah diatas tikar basah dan diantara ribuan lalat yang sibuk berdengung kesana kemari. Sambil tertawa lepas, kami menatap banyak sekali sampah yang mengunung, dan hampir di setiap puncaknya terdapat beberapa pemulung. Beberapa area sampah yang telah habis “dicakarin” oleh pemulung, kemudian dibakar agar mengurangi tumpukan sampah sehingga bisa ditimbun oleh sampah yang baru. Ada belasan truk sampah berwarna kuning hilir mudik. Namo Bintang adalah Tempat Pembuang Sampah sekotamadya, jadi Namo Bintang dapat dikatakan sebagai TPA terbesar di Medan. Sesudah bercengkrama sekitar sejam-an, kami pun memohon untuk pamit kepada nek Karo dan beberapa pemulung yang juga duduk disekitaran tenda nek Karo. Kami pun dihantarkan dengan senyum ramah dari mereka.
BAB V
Kesimpulan dan saran
     Adapun kesimpulan dari pembahasan sebelumnya, yakni:
Sampah merupakan barang sisa atau juga barang bekas yang telah berkurang maupun habis nilai gunanya.
Sampah yang umumnya dipungut ataupun diambil oleh para pemulung untuk dijual kembali adalah sampah plastik, besi, botol kaca maupun plastik, koran bekas maupun buku-buku usang.
Memulung adalah tindakan memungut barang bekas tak dipakai lagi (namun masih bisa didaur ulang) dan telah dibuang oleh si pembuang, tanpa membelinya. Dan orang yang melakukan tindakan memulung disebut pemulung.
Ada beberapa alasan mengapa para pemulung memilih mata pencaharian ini yaitu, tuntutan ekonomi, kekurangan pengetahuan dan skill, tidak mendapat pekerjaan lain yang lebih baik sampai kepada alasan keturunan.
Sampah sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan pemulung, sebab jumlah sampah yang ada maupun diperoleh sangat berdampak terhadap tingkat pendapatan pemulung. Secara singkatnya, semakin banyak jumlah sampah yang akan dijual kembali maka semakin banyak pendapatan yang diperoleh pemulung. Dan semakin sulit sampah diperoleh, akan semakin tinggi nilai jualnya.
Meskipun mereka hanya bermatapencaharian sebagai pemulung, pada umumnya mereka mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Adapun saran yang dapat diberikan ialah:
Sebaiknya para pemulung sesekali memeriksakan diri ke pusat kesehatan yang dimampui, untuk memastikan kesehatan mereka, sebab risiko mata pencaharian mereka sangat berdampak pada keprimaan tubuh.
Dan ada baiknya pemerintah daerah membangun posko layanan kesehatan gratis di daerah para pemulung melakukan aktivitas, misalnya di sekitar TPA.

            Daftar Pustaka
Http://arti-kata.com/pemulung(diakses hari Jumat tanggal 3 Juni 2011).
Http://id.wikipedia.org/wiki/pemulung/pdf (diakses hari Selasa tanggal  31 Mei 2011).
Http:://WHO.com/pengertian-sampah (diakses hari Selasa tanggal 31 Mei 2011).

Koenjaraningrat.1980,Sejarah Pengantar Antropologi 1.Jakarta:Universitas Indonesia.
Nur,R.Abdul.2006,Melepas stigma negatif pemulung,Jakarta:Rajawali press.
Rohman,Taufiq.2006,Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta:Yudistira.
Sukmawati, Ari. 2007. Resiprositas Dalam Komunitas Pemulung di Kelurahan Hutan Kayu Selatan Kecamatan Matraman Jakarta Timur.Semarang:FIS UNNES.
Sunarto,Kamanto.2004,Pengantar Sosiologi.Jakarta: Universitas Indonesia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar